Welcome

Selamat datang di blog kami.
Kami harap isi dari blog ini dapat bermanfaat bagi anda sekalian yang membacanya. Blog ini berisi pemikiran kami mengenai Negara dan atau pemerintahan yang tertuang dalam refleksi maupun photo essay kami. Kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari anda, agar substansi dari blog ini dapat menjadi lebih baik. :)
so, feel free to leave comment for us :)

Enjoy our Blog and Have a Nice Day :)

Rabu, 23 November 2011

Bela Negara tanpa Perang

Putu Samantha Pradnya Puspatara-1111004001

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai macam kecaman yang dilontarkan oleh masyarakat Indonesia kepada Negara tetangga Malaysia terkait berita pencaplokan wilayah Camar Bulan. Berdalih demi bela Negara, demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, masyarakat banyak melontarkan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Bukankah kita tidak mendapat apa-apa dengan melontarkan kecaman macam itu? Tidakkah akan lebih baik bila kita mencoba memandang falsafah bela Negara dari sudut pandang yang lain?
Bela Negara adalah kondisi psikologis yang mencerminkan tekad, sikap dan perilaku warganegara Indonesia yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta rela berkorban guna menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara (Yasni,2010/2011:55). Jadi, bela Negara tidak melulu harus berperang demi menjaga keutuhan NKRI ini. Banyak hal dapat diimplementasikan dalam pengembangan definisi bela Negara. Dengan tidak bertindak anarkis pun sebenarnya kita telah melaksanakan prinsip bela Negara. Karena dengan tidak bertindak anarkis artinya kita telah menjaga ketertiban dan keamanan wilayah NKRI sehingga terjadi keseimbangan yang menyebabkan kelangsungan hidup bangsa Indonesia.



Daripada sibuk menggunjingkan Negara tetangga, ada baiknya kita melihat ke dalam, internal, Negara ini. Saat ini banyak sekali hal-hal yang dapat menjadi penyebab rusaknya kelangsungan hidup bangsa dan Negara. Kemiskinan dan korupsi, menurut saya, adalah dua hal yang paling ekstrem yang dapat mengancam kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Dalam artikel Kompas edisi Senin, 3 Oktober 2011, di halaman utamanya saya mendapati artikel yang luar biasa. Dengan headline ‘Modus Pengerukan Anggaran’, disana dibahas mengenai peluang mafia anggaran dalam perencanaan APBN. Tetapi bukan itu yang membuat saya menulis artikel ini. Artikel di sebelahnyalah yang saya katakan luar biasa. ‘Bisnis Transportasi Laut Nyaris Mati’, bunyi headline-nya. Ironis sekali karena tepat di sebelah artikel mengenai korupsi APBN, terdapat artikel tentang ‘memerlukan’ APBN. Sebagai masyarakat yang ingin membela Negara ini, kita harus lebih tanggap terhadap praktek-praktek korupsi yang merajalela. Mereka yang menjadi mafia anggaran ataupun mafia pajak, semuanya mengancam kelangsungan hidup Negara. Mereka tidak memiliki rasa bela Negara yang seharusnya malah tumbuh lebih kuat daripada masyarakat kebanyakan, karena mereka adalah wakil rakyat. Ironis memang. Hal ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan masyarakat umum dalam konsep bela Negara.

Untuk ikut berpartisipasi dalam hal bela Negara, masyarakat tidak melulu angkat senjata untuk berperang. Dengan memilih para wakil rakyat yang dapat diandalkan dan tidak hanya mengandalkan money politics, artinya masyarakat telah ikut berpartisipasi dalam konteks bela Negara. Inilah permasalahan Negara ini sekarang. Kampanye menjelang pemilihan umum selalu menjadi ajang tikus-tikus kecil untuk ‘berkorban’ sedikit demi mendapatkan sesuatu yang besar. Disini terlihat kaitan antara kemiskinan dan korupsi. Karena banyak warga Indonesia yang masih harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan pangannya hari ini, maka hal ini dilihat oleh para ‘tikus-tikus’ itu sebagai umpan yang tak boleh dilewatkan. Mereka berlomba-lomba mendapatkan perhatian dan warga-warga ini menjelang kampanye pemilihan umum, bagaimanapun caranya. Mengeluarkan uang berapapun mereka tidak takut. Mereka pikir toh, nanti bisa dapat yang lebih banyak dari ini. Dari sinilah asal mula terjadinya korupsi yang semakin njelimet di Indonesia ini. Karena sebelum terpilih mereka telah mengeluarkan banyak uang, jadi ketika terpilih yang pertama kali mereka pikirkan adalah bagaimana caranya mengembalikan uang yang telah dikeluarkan untuk dana kampanye. Miris. Jika semua pejabat Negara seperti ini, harus berapa banyak lagi uang Negara yang masuk ke kantong para pejabat tersebut? 

Karena itu, kita sebagai masyarakatlah yang harus mampu menyingkirkan kader-kader politisi semacam ini. Say no to Money Politics! Bersikap cerdaslah dan berpikir jauh ke depan. Memang sekarang kita mendapatkan uang dari calon pejabat tersebut, namun setelah pejabat tersebut terpilih kita akan ‘kehilangan’ uang lebih banyak lagi dari apa yang telah diberikan oleh si pejabat. Bila terus demikian, bukankah kelangsungan hidup bangsa dan Negara juga akan goyah? Menolak money politics juga salah satu sikap bela Negara yang dapat kita lakukan. Coba bayangkan bahwa semua pejabat yang menjadi wakil rakyat bersih dari pikiran-pikiran ‘balik modal’. Mereka akan lebih memikirkan apa yang terbaik untuk warganegara Indonesia, karena logikanya mereka adalah warga Indonesia dan mereka juga tidak ‘kehilangan’ apa-apa dalam kampanye, jadi mereka pasti lebih berpikiran untuk menciptakan kenyamanan hidup di Indonesia sehingga kebijakan-kebijakan yang mereka buat menghasilkan kenyamanan untuk hidup di Indonesia. Bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya sendiri, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia. Memang tidak semua pejabat pemerintahan tidak memiliki sikap bela Negara. Mungkin beberapa pejabat juga tidak setuju dengan praktek korupsi yang luas berkembang ini. Namun jika mereka diam saja melihat praktek korupsi terjadi di depan mata mereka sendiri, bukankah itu namanya pengkhianatan terhadap Negara? Bukankah itu sama saja dengan melihat tentara asing datang untuk menginvasi Indonesia namun kita sebagai rakyat Indonesia hanya diam saja dan melihat. 

Ayo, kita bersama-sama hancurkan korupsi yang sepertinya sudah membudaya di tanah air kita tercinta ini. Jangan bersikap acuh tak acuh terhadap siapa yang memimpin. Berikanlah respek terhadap pemerintah dan proaktif mengawasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Mendukung pemerintah dalam program-program positif yang dicanangkannya juga termasuk salah satu sikap bela Negara dalam contoh sederhananya. Karena itu dari sekarang, jika ingin membela Negara tidak harus dengan menjelek-jelekkan Negara lain atau mengangkat senjata untuk berperang. Cukup dengan ikut andil dalam pelaksanaan tata pemerintaha di Indonesia saja sudah merupakan satu sikap bela Negara yang dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat. Sebisa mungkin, gunakan hak pilih kita dengan bijaksana. Jangan sampai kita salah memilih wakil-wakil kita. Karena para wakil rakyat mencerminkan rakyat yang memilihnya. Dan hindari ‘golput’ karena meskipun akhirnya tidak menang, tetapi setidaknya kita telah melakukan sesuatu yang mungkin akan merubah bangsa Indonesia kea rah yang lebih baik. Berhenti menganggap bahwa siapapun yang memimpin toh akan sama saja. Buang jauh pikiran tersebut. Analisis dan nilai calon pemimpin dan pejabat Negara sebelum memilihnya. Akan ada saatnya Indonesia siap kembali menjadi macan, bukan hanya di Asia melainkan di dunia. Dan yang terakhir adalah perjuangkan transparansi sistem politik dan hokum di Indonesia untuk Negara yang lebih adil bagi setiap lapisan masyarakat. Jadi, siapa bilang bela Negara harus melulu siap mati di medan perang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar